SIT Asy Syifa Qolbu

×

Membangun Karakter Generasi Alpha: Peran Vital Pendidikan Islam di Era Digital

Para siswa menyalami gurunya ketiga masuk sekolah.

Di era di mana informasi mengalir tanpa batas dan anak-anak tumbuh dengan gawai di tangan, tantangan terbesar bagi orang tua dan pendidik bukan lagi sekadar literasi akademik, melainkan pembentukan karakter.

Di sinilah pendidikan Islam mengambil peran krusial, bukan hanya sebagai transfer pengetahuan agama (Ta’lim), tetapi sebagai proses pembentukan adab dan karakter yang komprehensif (Ta’dib).

Artikel ini akan membahas bagaimana prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam dapat diaplikasikan secara praktis untuk melindungi dan membangun karakter luhur anak-anak di era digital.

Mengapa Pendekatan Holistik dalam Pendidikan Islam Diperlukan?

Dalam literatur pendidikan Islam, manusia dilihat sebagai entitas holistik yang terdiri dari unsur jasmani, akal, dan rohani.

Tokoh pendidikan Islam terkemuka, Prof. Dr. Zakiah Daradjat, menekankan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Jika pendidikan modern sering kali berfokus berat pada pencapaian kognitif (akal), pendidikan Islam menyeimbangkannya dengan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).

Di era digital, di mana cyberbullying, kecanduan layar, dan krisis identitas marak terjadi, keseimbangan mental dan spiritual ini menjadi fondasi pertahanan yang paling dibutuhkan anak.

3 Pilar Praktis Pendidikan Islam di Era Digital

Untuk menerapkan nilai-nilai ini di rumah maupun di sekolah, terdapat tiga pendekatan praktis yang dapat dilakukan:

1. Keteladanan (Uswah Hasanah) Sebelum Aturan

Anak-anak, terutama Generasi Alpha, adalah pengamat yang ulung namun pendengar yang buruk. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa jiwa anak bagaikan kertas putih yang siap menerima goresan apa saja dari lingkungannya.

  • Praktik: Sebelum membatasi screen time (waktu layar) anak, orang tua dan pendidik harus terlebih dahulu menunjukkan disiplin dalam menggunakan perangkat digital di depan mereka. Keteladanan adalah metode pendidikan yang paling efektif dan membekas.

2. Membangun “Filter” Internal Melalui Pemahaman Aqidah

Alih-alih hanya mengandalkan aplikasi parental control (kontrol orang tua) untuk memblokir konten negatif, pendidikan Islam fokus pada pembangunan parental control di dalam hati anak itu sendiri.

  • Praktik: Tanamkan konsep Muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi). Pemahaman ini menciptakan filter internal yang membuat anak mampu menahan diri dari mengakses konten negatif, meskipun tidak ada orang tua yang mengawasi.

3. Literasi Digital Berbasis Tabayyun

Islam telah mengajarkan konsep Tabayyun (verifikasi/pengecekan fakta) jauh sebelum era internet muncul, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6.

  • Praktik: Ajarkan anak untuk selalu kritis terhadap informasi yang mereka terima di media sosial. Biasakan mereka untuk bertanya: “Apakah informasi ini benar?”, “Apakah ini bermanfaat?”, dan “Apakah ini menyakiti orang lain jika disebarkan?”.

Kesimpulan

Pendidikan Islam di era digital tidak berarti menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membekali mereka dengan kompas moral yang kuat untuk menavigasi dunia maya.

Dengan mengedepankan keteladanan (Uswah Hasanah), membangun kesadaran internal (Muraqabah), dan menerapkan prinsip kehati-hatian (Tabayyun), kita dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga berakhlak mulia.

Referensi
  • Daradjat, Zakiah. (2011). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. (Referensi otoritatif mengenai definisi dan tujuan pendidikan Islam secara komprehensif).
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulumuddin (Jilid 3, Bab Keajaiban Hati). (Sumber klasik yang menjadi rujukan utama dalam psikologi dan pendidikan karakter Islam).
  • Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 6. (Dasar teologis mengenai pentingnya literasi informasi dan verifikasi/Tabayyun).
  • Jurnal Pendidikan Islam (Kementerian Agama RI): Berbagai literatur kontemporer mengenai penerapan Tarbiyah di era disrupsi informasi.

Bagikan Artikel

0%

Dapatkan Info Terbaru Seputar ASQ.​

Artikel Terkait